Legislator Golkar, Nur Amin Tantu Ungkap Sejarah Dibangunnya Taman Macanga Ri Bontoramba

Legislator Gollar, Nur Amin Tantu Ungkap Sejarah Dibangunnya Taman Macanga Ri Bontoramba
Legislator Golkar, Nur Amin Tantu Ungkap Sejarah Dibangunnya Taman Macanga Ri Bontoramba

Terkini.id, Jeneponto – Taman Bacaan Macanga Ri Bontoramba, Kecamatan Bontoramba, Kabupaten Jeneponto yang diresmikan oleh Bupati Jeneponto, Iksan Iskandar, Kamis, 11 Februari 2021 dibangun  dengan peradaban sejarah Bontoramba Binamu.

Jejak sejarah Bontoramba menurut putra Bontoramba Nur Amin Tantu, mengatakan, Macanga merupakan gelar Bontoramba.

“Gelar itu diberikan karena adat istiadat di daerah sangat kental dan keras, disaat Kerajaan Binamu berpusat di Bontoramba, dimasa itu kerajaan Binamu sangat menentang kolonial Belanda,” kata Nur Amin Tantu yang merupakan anggota DPRD Jeneponto, Jumat, 12 Februari 2021.

Legislator partai Golkar itu menjelaskan, di zaman itu menurut jejak sejarah Bontoramba yang pernah dia baca, Bontoramba memiliki benda turun temurun untuk disematkan kepada raja.

Taman Bacaan Macanga Ri Bontoramba, Kabupaten Jeneponto

“Benda turun temurun itu adalah jangang-jangan Bulaeng, jadi diapa-siapa yang menjadi karaeng atau raja dialah yang memiliki benda turun temurun tersebut. Jangang – Jangang Bulaeng itu disematkan pada saat pelantikan karaeng oleh To’do’ Appaka di Balumbungang (tempat pelantikan raja-raja Binamu),” ungkap Nur Amin Tantu

Menarik untuk Anda:

Nur Amin Tantu mengungkapkan, Bontoramba memiliki objek sejarah, yakni makam raja-raja Binamu, rumah adat Kerejaan Binamu, Mesjid Syuhada/Jihad dan Kejadian jangang-jangang bulaeng.

“Dari semua kompleks makam di Jeneponto, Kompleks makam raja-raja Binamu tersebut merupakan kompleks makam terbesar dan menumental yang ditata dengan baik, kerbersihan kompleks tersebut dijaga bahkan dibuat taman dan tempat istirahat bagi pengujung,” ujar Nur Amin Tantu.

Menurutnya, Jumlah makam dalam kompleks pemakaman tersebut sebanyak 639 buah yang menempati areal seluas 23.127 meter persegi. 

“Terdapat 99 buah makamnberukuran besar, ukuran sedang 123 buah dan ukuran kecil 417buah. Sebagian besar makam dibentuk dari papan batu, disusundua sampai empat undakan. Dua hal yang sangat menonjol pada kompleks makam tersebut yaitu hiasan pada jirat dan nisan,” pungkasnya.

Sedangkan Masjid Syuhada menurut Amin Tantu, dibangun pada tahun 1928 Masehi di Desa Maero, yang dibangun oleh Lompo Daeng Raja.

“Ukurannya 60 x 60 meter dan diberinama masjid Syuhada. Menurut sejarahnya, saat itu Masjid itu menjadi pusat perlawanan rakyat terhadap Belanda, tahun 1946 Masjid ini dihancurkan oleh Kapten Westerling. Tahun 1948 puing-puing Masjid dibangun kembali oleh Mattewakkang Karaeng Raya (Karaeng Binamu IX ) dan diganti nama menjadi masjid Jihad,” tutup Nur Amin Tantu.

Ia menambahkan, dari sejarah itulah sehingga Pemerintah Kecamatan Bontoramba, dan Semua Kepala Kelurahan dan Desa serta tokoh adat dan tokoh masyarakat Kecamatan melakukan pertemuan untuk membahas terkait rencana pembangunan taman peradaban Bontoramba.

“Berdasarkan sejarah itu nama taman bacaan Ri Bontoramba di sepakati, dengan alasan agar masyarakat Bontoramba dapat selalu mengetahui sejarah Bontoramba,” imbuhnya.

Dimana Kecamatan Bontoramba yang merupakan hasil pemekaran dari Kecamatan Tamalatea  Kabupaten Jeneponto memiliki 1 Kelurahan dan 11 Desa yaitu Desa Maero, Bangkalaloe, Bulusibatang, Batujala, Baraya, Kareloe, Datara, Balumbungang, Lentu, Tanammawang, dan Bulusuka.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Musda Ke-II KAHMI Jeneponto, Bupati dan Sekda Terpilih Presidium

Ketua Presidium KAHMI Sulsel Isyaratkan Iksan Iskandar Untuk Maju Calon Legislatif DPR RI

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar