Hasil Analis Pengukuran Data Stunting Tingkat Kabupaten Jeneponto Sulsel

Terkini.id, Jeneponto – Pokja Stunting Kabupaten Jeneponto telah menganalis pengukuran data Stunting di tingkat Kelurahan/Desa dan Kecamatan.

Hal itu diungkapkan Tim Pokja Stunting Jeneponto, M Masri kepada terkini.id.

Tim Pokja Jeneponto menjelaskan perkembangan sebaran prevalensi stunting.

Baca Juga: Tangani Stunting, Sejumlah Program di Desa Turatea Timur Telah Disepakati

“Stunting adalah kondisi gagal tumbuh kembang anak balita akibat  kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, terutama pada rumah tangga 1000 HPK,” jelasnya.

Menurutnya, Kekurangan gizi  terjadi sejak bayi dalam kandungan hingga masa setelah lahir, akan tetapi nanti tampak stunting setelah bayi berusia 2 tahun. Dengan  demikian, usia 1000 HPK merupakan masa emas yang sangat penting mendapat  perhatian baik dari aspek nutrisi maupun kesehatan lingkungan sekitar rumah 
tangga.  

Baca Juga: Jeneponto Raih Penghargaan Kabupaten Terbaik Penyelesaian Tindak Lanjut

“Stunting disebabkan oleh berbagai factor, dimana tidak hanya terkait gizi 
buruk tetapi juga factor-faktor penyebab langsung dan tidak langsung lainnya,  intervensi yang paling menentukan untuk mengurangi terjadinya stunting adalah  intervensi pada usia 1000 HPK. Untuk  semakin memperkecil potensi terjadinya stunting. Maka konvergensi/keterpaduan lintas sector dibutuhkan dalam melakukan intervensi pencegahan stunting,” ujarnya.

Berikut ini grafik sebaran stunting dapat dilihat pada grafik dibawah ini: 

Grafik sebaran Prevalensi stunting di kabupaten Jeneponto tahun 2020 – 2021
Peta prevalensi data stunting Kabupaten Jeneponto tahun 2020u

 

Peta prevalensi data stunting Kabupaten Jeneponto tahun 2021

Baca Juga: Jeneponto Raih Penghargaan Kabupaten Terbaik Penyelesaian Tindak Lanjut

Berdasarkan grafik dan peta diatas, menunjukkan bahwa terjadi stunting penurunan prevalensi  di kabupaten Jeneponto dari 15,9% tahun  2020 menjadi 12,58% tahun 2021. 

Hal ini memperlihatkan adanya penurunan stunting prevalensi  ini, dipengaruhi oleh membaiknya konvergensi lintas  sector yang terlibat dalam penanganan stunting. Hal yang paling menonjol  dari membaiknya intervensi gizi adalah : 

1. Adanya regulasi yang mendukung pelaksanaan kegiatan percepatan  penurunan stunting di kabupaten Jeneponto. 

2. Adanya MOU dengan organisasi wanita dan Lembaga Sosial Masyarakat stunting
untuk percepatan penurunan . 

3. Peran dari lintas program dan lintas sektor terkait dalam pemberian  intervensi baik intervensi spesifik maupun intervensi sesintif.

Walaupun demikian, angka penurunannya belum signifikan, oleh  karena itu, masih diperlukan adanya dukungan komitmen dan kebijakan  pimpanan daerah dalam melakukan intervensi.Beberapa kegiatan intervensi  yang telah dilakukan di kabupaten Jeneponto baik ditingkat kabupaten  maupun di tingkat  kecamatan dan di tingkat desa/kelurahan

Dalam rangka stunting percepatan penurunan  dengan perbaikan gizi pada 1000 Hari  Pertama Kehidupan adalah: 

1. Pemberian bantuan langsung non tunai yang dilakukan oleh dinsos.

2. Penyelenggaraan pendidikan Anak Usia Dini.

3. Pemberian tablet tambah darah pada ibu hamil dan remaja puteri.

4. Pemberian Makanan Tambahan baik  pada ibu hamil maupun pada bayi dan balita yang bermasalah gizi.

5. Pemberian edukasi terkait Pemberian Makana Bayi dan Anak (PMBA) bagi ibu balita.

6. Memberikan konseling dan edukasi kepada ibu hamil, ibu balita dan  remaja terkait Gizi Seimbang dan isi Piringku.

7.  Keterlibatan Kader Pembangunan Manusia. 

Bagikan