Terkini.id, Jeneponto - Harga gas elpiji non subsidi 12 kg yang melonjak draktis itu berdampak pada usaha kuliner di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.
Dampak itu dirasakan seorang pengusaha warung kuliner, Nur kayla pemilik Rumah Makan (RM) Dapur Kayla di Kecamatan Tamalatea yang resah dengan harga gas elpiji yang sudah mencapai Rp 223 ribu per12 kg.
"Sebelumnya, harganya Rp 198 ribu, sekarang sudah Rp 223 ribu, naik Rp 25 ribu,' kata Kayla.
Dari perselisihan harga gas elpiji 12 kg non subsidi dari sebelumnya kisaran Rp 198 ribu melonjak naik Rp 223 ribu, Kayla merasa resah dengan harga Elpiji melonjak draktis.
"Harga elpiji 12 kg sekarang sangat memberatkan, kenaikan 25 ribu ini di agen, jadi berapami di toko - toko di jualkan," beber Kayla.
Meski demikian, ia mengaku sangat tak memungkinkan menaikkan harga makanan jualannya.dikarenakan akan berpengaruh terhadap konsumennya.
Ia pun hanya berinisiatif untuk mengurangi porsi untuk mengimbangi kenaikan harga gas elpiji tersebut.
"Untuk mesiasati kenaikan harga gas elpiji jalan satu-satunya mengurangi porsi makanan. Karena jangan sampai kalau kita naikkan harga makanan, pembeli mengeluh juga dan berkurang pembeli," ujar Fahmi
Ia pun berharap agar pemerintah bisa memberi keringanan dengan menunda kenaikan gas non subsidi ini.
Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Jeneponto Manrancai Salli menyebut, harga tabung gas elpiji nonsubsidi naik.
"Harga sekarang tabung elpiji 5,5 kg Rp 104 000 Sedangkan tabung 12 kg Rp 215 000," ujarnya.
Menurutnya, harga gas elpiji sebelumnya variatif baik itu dipangkalan dan eceran.
"Harga pangkalan variatif sebelum kenaikan tabung gas ukuran 5,5 kg Rp 93 sampai 100 ribu. Kalau gas elpiji 12 kg Rp 195 sampai 205 ribu," jelasnya.










